Humanisme Dan Gerakan Zaman Baru – Herlianto M.Th.

Dikutip dari buku:

“HUMANISME DAN GERAKAN ZAMAN BARU”

Oleh: Ir. Herlianto, M.Th.

Penerbit: Yayasan Kalam Hidup


GERAKAN PENGEMBANGAN PRIBADI

Dewasa ini, setidaknya sejak tahun 1970-an, terjadi kebangunan pula dalam bentuk gerakan-gerakan mistik modern yang sekalipun tidak secara langsung mengkaitkan diri dengan salah satu aliran atau agama kebatinan, tetapi membawakan falsafah yang sama dengan bentuk Gerakan Zaman Baru dan Humanisme Baru! Gerakan terselubung ini dikenal dalam berbagai-bagai gerakan Pengembangan Pribadi dengan nama seperti New Conciousness Movement, Human Potential Movement, Creative Imagination, Self Motivation, Self Actualization, Self Realization, Self Esteem, Transformation Movement, Mind Power, Positive Thinking, Success Motivation, Personal Development, New Humanism, dan lain-lain.

Pada prinsipnya gerakan-gerakan pengembangan pribadi itu mengajak orang-orang untuk menyadari kemampuannya yang tidak terbatas / terhingga, untuk mencapai kehidupan yang damai, sukacita, cinta, dan kelimpahan di bumi ini, dan bahkan dikatakan bahwa: “pencerahan rohani merupakan kunci sukses perusahaan”! Dengan adanya janji-janji demikian dapat dimaklumi kalau banyak perusahaan melatih karyawan-karyawannya ke arah praktek demikian, dan dunia profesional diisi dengan seminar-seminar yang mempopulerkan falsafah demikian. Memang gerakan-gerakan pengembangan pribadi tidak secara eksplisit mengacu pada agama-agama kebatinan tertentu, juga tidak menggunakan istilah-istilah agama, pengajarannya juga tidak diberikan di klenteng atau di vihara, bahkan dikembangkan dengan baju ilmu pengetahuan modern seperti Psikologi Modern, tetapi sekalipun demikian, ternyata gerakan-gerakan ini mempunyai pandangan yang prinsipnya sama sekalipun diajarkan oleh badan-badan yang menamakan dirinya universitas, institut, pusat, atau dalam bentuk seminar-seminar motivasi. Kegiatan-kegiatan gerakan Pengembangan Pribadi juga sudah masuk ke Indonesia, baik melalui buku-buku, seminar-seminar, maupun yang dipopulerkan melalui mimbar-mimbar gereja, karena dalam beberapa mimbar gereja juga sudah dipopulerkan paham demikian, misalnya dengan topik-topik IBM way, Berpikir Positif, Orang Kristen Tidak Mungkin Gagal, dan bermacam-macam slogan lainnya. Pada dasarnya keyakinan gerakan ini adalah penekanan pada “otonomi, kebaikan, dan potensi manusia”! Dalam bentuknya yang dikaitkan dengan kekristenan, kita menjumpai juga seminar-seminar dengan nama Positive Thinking (Norman Vincent Peale), Possibility Thinking (Robert Schuller), dan Positive Confession (Kenneth Hagin). Ketiga penulis terakhir ini adalah “pendeta-pendeta” yang buku-bukunya banyak dibaca oleh orang Kristen maupun oleh lingkungan pengusaha!

Pada dasarnya, Gerakan-Gerakan Pengembangan Pribadi mempercayai adanya kekuatan (power), pikiran (mind) atau potensi alam semesta atau yang disebut sebagai universal power, universal mind, atau universal self, dan manusia memiliki sebagian dari kekuatan itu yang disebut dengan nama, antara lain: human potential, human power, human mind, atau the power of the self. Manusia dianggap mempunyai potensi / kekuatan demikian yang tidak terhingga; sehingga tugas manusia adalah menggali kekuatan / potensi diri itu semaksimal mungkin untuk mencapai kemanusiaan yang penuh. Norman Vincent Peale dalam mengkhotbahkan Positive Thinking dimulai dengan kenyataan, bahwa ketika pelayanannya yang konvensional sebagai pendeta muda tidak berbuah, ia membuka klinik konseling bersama seorang ahli jiwa bernama Smiley Blinton, yang membawa Peale dalam pengaruh para psikoanalis. Donald Meyer dalam bukunya “Positive Thinkers” (halaman 260) menyebutkan bahwa tanpa terhindarkan, Peale terpengaruh oleh psikolog William James mengenai Energi Manusia, dan ia mendengungkan temanya yang permanen seperti yang ditulisnya dalam bukunya “The Art of Living”, yaitu bahwa: :”Kekristenan praktis, menolong manusia untuk menggali simpanan kekuatan (reservoir of power) dalam diri masing-masing”. Robert Schuller dalam tulisan editorialnya pada majalah “Possibilities” mengemukakan bahwa “The me I see, the me I’ll be.” Pasific Institute di Amerika Serikat, mengajarkan slogan-slogan positif yang ditujukan pada diri sendiri seperti antara lain:

“I am the Authority over Me –

I am a super sales person and grow every day in every way –

If it’s going to be, it’s up to me.”

Bahkan seorang instruktur positif thinking pernah mengemukakan bahwa: “Bila kita berpikir positif, hal-hal yang negatif dalam diri kita akan berangsur-angsur tergeser oleh yang positif itu, dan pada akhirnya yang negatif itu akan terhilangkan”.

 

 

GERAKAN PENGEMBANGAN DIRI DITINJAU DARI ALKITAB

Memang gerakan-gerakan pengembangan pribadi menarik untuk diikuti termasuk oleh orang Kristen, sebab sering tidak menunjukkan ciri agama kebatinan tertentu, dan sifatnya praktis dan menarik karena tujuannya untuk meningkatkan kemampuan diri sendiri tanpa bantuan orang lain, berarti manusia adalah subyek kemajuan dirinya sendiri (anthroposentris), manusia menjadi juruselamat bagi dirinya sendiri, dan manusia pada dasarnya sama dengan hakekat alam semesta, yaitu universal power / mind itu. Lebih-lebih di kalangan Kristen, tanpa sadar falsafah pengembangan pribadi itu dipopulerkan oleh ketiga pendeta – Norman Vincent Peale, Robert Schuller, dan Kenneth Hagin, melalui buku-buku mereka, sehingga umat Kristen menganggapnya sebagai ajaran Kristen, dan tidak lagi bisa membedakan manakah yang merupakan bagian Alkitab dan mana yang merupakan ajaran pengembangan pribadi humanisme baru!

Sekalipun tidak secara terus terang membawakan misi agama kebatinan tertentu dan karena sifatnya seolah-olah ilmiah dan netral inilah maka penyebarannya lebih mudah diterima umum termasuk orang-orang beragama, tidak terkecuali orang-orang Kristen. Tetapi kalau dilihat lebih mendalam, sifatnya sama, yaitu mengalihkan pandangan iman Kristen sesorang dari Tuhan kepada dirinya sendiri, dari anugerah Allah kepada usaha manusia (humanisme), dan lebih dari itu bahkan melatih orang membebaskan dirinya dari otoritas luar termasuk dari otoritas Tuhan tentunya, manusia dapat membebaskan dirinya sendiri dari kelemahan diri, dan manusia mempunyai potensi / kekuatan untuk menentukan masa depan dan tujuan hidupnya sendiri! Hakekat realita dosa dalam diri manusia diabaikan, dan hanya dianggap sebagai ketidakseimbangan pribadi atau belum digalinya potensi diri manusia saja. Pengaruh gerakan pengembangan pribadi ini dan juga psikologi baru dipopulerkan pula di kalangan Kristen dengan adanya tokoh-tokoh yang juga menjadi tokoh humanisme modern pula, yaitu Norman Vincent Peale yang bukunya berjudul The Power of Positive Thinking sangat populer, dan Robert Schuller yang bukunya antara lain berjudul Possibility Thinking dan Self Love mencerminkan pandangan hidupnya, demikian juga buku-buku Kenneth Hagin banyak beredar. Ketiga tokoh Kristen terakhir ini menjadi idola / nabi yang buku-bukunya banyak dipakai oleh para humanis, gerakan pengembangan pribadi, dan tulisan-tulisan Gerakan Zaman Baru (New Age Movement), dan di kalangan Kristen juga dijadikan idola di kalangan penganut pengajaran sukses / kemakmuran!

Dengan berpegang pada ajaran Alkitab, kita dapat mengetahui bahwa jati diri (self) manusia itu penuh dengan kejahatan dan dosa sejak semula, hal mana bisa dengan jelas kita lihat dari ucapan Allah, Yesus dan para rasul-Nya:

“…kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata…manusia…yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya” (Kejadian 6:5; 8:21)

“Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat” (Matius 15:19)

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.

Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku.” (Roma 7:18-20)

Apakah dengan demikian berarti bahwa ajaran iman Kristen adalah ajaran negatif yang pesimis seperti contoh ayat-ayat diatas? Sudah jelas jawabannya tidak! Kehidupan Kristen adalah optimis, tetapi optimisme itu bukan sesuatu yang timbul dari dirinya sendiri, tetapi optimisme itu timbul sebagai “buah anugerah Allah”; jadi, seorang Kristen akan berpikir optimis dan bersukacita bukan supaya dirinya jadi baik, tetapi justru diri jahatnya yang telah dibarui Roh Kudus (yang dianugerahkan kepada orang percaya) menghasilkan pengucapan syukur berupa sukacita dan pandangan “optimis” dan “positif”! Dengan tepat Paulus berkata dalam 2Korintus 12:9-10 dan 2Korintus 13:4-5.

Dari ayat-ayat di atas menjadi jelas bagi kita bahwa ajaran-ajaran “Gerakan Pengembangan Pribadi” bukanlah ajaran Yesus. Gerakan Pengembangan Pribadi menganggap dalam dirinya mempunyai potensi ilahi yang dapat dikembangkan sendiri di luar Tuhan, hal mana berarti mendiskreditkan Allah penciptanya. Tetapi, umat Kristen telah dibarui hidupnya, sehingga dalam pengakuan akan kelemahan dan dosa dirinya itulah, kuasa Tuhan dianugerahkan kepadanya, sehingga ia menjadi seorang yang baru!

 

Pengutipan dari artikel ini harus mencantumkan:
Dikutip dari https://thisisreformedfaith.wordpress.com/

Advertisements